Oleh KH Abdul Mun’im Muzani
DutaIslam.Com – Suatu hari, guru kami Kiai Muhaimin Duraid rahimahullah oleh banyak orang dianggap sebagai Waliyullah atau kekasih Allah. Mendengar desas-desus itu, suatu ketika Kiai Muhaimin dengan memakai kaos oblong dan celana pendeknya turun langsung ikut girigan atau kerja bakti di kali bersama masyarakat.
Di tengah kerja bakti, telapak kaki Kiai Muhaimin menginjak pecahan beling dan mengeluarkan banyak darah. Sejak kejadian itu, orang-orang mulai mengubah anggapan mereka, “Kiai Muhaimin bukan Wali, dia orang biasa. Wali macam apa kok kena beling keluar darah?”
Syaikh Mutawalli Sya’rawi rahimahullah dalam perjalanan pulang dari mengisi kuliah umum di sebuah Universitas, memilih berhenti di area toilet umum. Supir yang mengantar beliau merasa heran, Syaikh Mutawalli ternyata sedang membersihkan dan menyikat lantai toilet, “Apa yang anda lakukan, Syaikh?”
“Saya sedang menebus dosa yang baru saja saya lakukan. Saya merasa bangga ketika pulang dari kuliah umum dan mendapatkan penghormatan luar biasa dari Universitas. Dengan begini, saya sedang menenangkan hati saya sendiri bahwa saya bukan siapa-siapa.” Syaikh Mutawalli menjawab sambil menahan isak.
Dari kisah tersebut, kita dapat mengambil pelajaran penting bahwa sekian panjang perjalanan hidup, sesungguhnya tugas besar manusia adalah noto ati (menata hati).
Kata Nabi, hati adalah pusat segala energi yang mampu menarik manusia pada dua keadaan : tenang dan gemrungsung atau panik.
Hati tenang adalah hati yang lepas dari kecenderungan duniawi : pujian, sanjungan, kehormatan dan bangga diri.
Hati gemrungsung adalah hati yang mengikat pada semua kecenderungan dan keinginan. Apa saja yang tampak menyenangkan, mengenyangkan, memuaskan, ia jejalkan ke dalam hati sehingga menjadi ramai. Hati yang terlalu ramai dengan kecenderungan duniawi, sesungguhnya sedang pelan-pelan menutup diri dari cahaya Allah.